FAKTAHALMAHERA.COM – Barisan Rakyat Halmahera (BARAH) kembali menyuarakan kritik terhadap kebijakan pemerintah pusat yang dinilai terlalu berfokus pada Program Makan Bergizi Gratis (MBG), sementara berbagai persoalan mendasar yang dihadapi masyarakat dan pemerintah daerah masih belum terselesaikan.
Ketua BARAH, Ady Hi Adam, meminta Presiden Prabowo Subianto melakukan evaluasi menyeluruh terhadap Program MBG. Bahkan, menurutnya, jika program tersebut terbukti membebani keuangan negara dan menghambat pembangunan daerah, maka pemerintah perlu mempertimbangkan langkah-langkah perbaikan hingga penghentian program tersebut.
Menurut Ady, kondisi fiskal daerah saat ini semakin berat akibat berbagai kebijakan penganggaran yang berdampak pada berkurangnya kemampuan pemerintah daerah menjalankan program pembangunan dan pelayanan publik.
“Banyak daerah saat ini menjadi korban tekanan fiskal. Program-program desa dan pembangunan yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat tidak berjalan maksimal karena anggaran terus mengalami penyesuaian. Ini harus menjadi perhatian serius Presiden,” ujar Ady kepada media ini, Rabu (10/06/2026).
Ia menilai pemerintah pusat seharusnya melihat persoalan bangsa secara lebih luas dan tidak hanya menjadikan MBG sebagai fokus utama kebijakan nasional.
“Kami melihat Presiden lebih sering berbicara tentang MBG dalam berbagai kesempatan. Padahal bangsa ini memiliki banyak persoalan yang harus diselesaikan secara bersamaan,” katanya.
BARAH juga menyoroti kondisi ekonomi masyarakat yang dinilai masih berat. Menurut Ady, daya beli masyarakat mengalami penurunan akibat kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok dan tekanan ekonomi yang terus dirasakan masyarakat bawah.
“Masyarakat saat ini sedang menghadapi kondisi yang tidak mudah. Harga kebutuhan hidup terus meningkat, daya beli masyarakat menurun, sementara lapangan pekerjaan yang layak masih terbatas. Pemerintah harus lebih peka terhadap kondisi riil yang dirasakan rakyat,” ujarnya.
Selain itu, ia menyinggung pelemahan nilai tukar rupiah yang menurutnya turut memberikan dampak terhadap perekonomian nasional.
“Ketika rupiah melemah, harga barang-barang ikut terdampak. Masyarakat yang paling merasakan akibatnya. Karena itu pemerintah harus fokus memperkuat ekonomi rakyat, bukan hanya menjalankan program yang bersifat populis,” tegasnya.
Ady juga mempertanyakan prioritas pembangunan nasional. Menurutnya, masih banyak sekolah di berbagai daerah yang mengalami kerusakan selama bertahun-tahun dan membutuhkan perhatian pemerintah.
“Kita masih melihat banyak sekolah yang rusak puluhan tahun, fasilitas pendidikan yang belum layak, jalan dan infrastruktur dasar yang belum memadai. Namun pembangunan fasilitas pendukung MBG bisa dilakukan dengan sangat cepat. Ini yang menjadi pertanyaan publik,” katanya.
Selain MBG, BARAH juga meminta pemerintah mengevaluasi Program Koperasi Merah Putih yang dinilai belum menunjukkan dampak signifikan terhadap peningkatan ekonomi masyarakat.
“Koperasi Merah Putih juga harus dievaluasi secara objektif. Program pemerintah harus benar-benar memberikan manfaat nyata, bukan sekadar menjadi target administratif,” ujarnya.
Ady menambahkan bahwa banyak bupati dan wakil bupati saat ini menghadapi tekanan besar dalam mengelola pemerintahan daerah karena keterbatasan fiskal yang ada.
“Bupati dan wakil bupati di berbagai daerah sedang pusing memikirkan kondisi fiskal sekaligus memenuhi janji pembangunan kepada masyarakat. Pemerintah pusat harus memahami kondisi tersebut dan tidak membebani daerah dengan kebijakan yang mempersempit ruang fiskal,” katanya.
BARAH berharap Presiden Prabowo membuka ruang evaluasi terhadap berbagai program nasional serta memastikan pembangunan berjalan secara berimbang antara kebutuhan pusat dan daerah.
“Presiden harus memikirkan bangsa ini secara total. Pendidikan, kesehatan, infrastruktur, ekonomi rakyat, kesejahteraan petani dan nelayan, serta kemampuan fiskal daerah harus menjadi perhatian yang sama pentingnya. Jangan sampai rakyat terus menanggung beban sementara pemerintah hanya fokus pada satu program,” tutup Ady.
Redaksi: Draken/”
















