FAKTAHALMAHERA.COM — Dugaan permainan distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM) di wilayah Gane Barat Utara, Kabupaten Halmahera Selatan, kini menjadi sorotan tajam masyarakat. SPBU Dolik milik CV Lalai Daio disebut-sebut menjadi sumber keluhan warga setelah stok BBM jenis Pertalite dan Pertamax diduga selalu habis hanya dalam waktu satu hingga dua hari setelah pasokan masuk.
Berdasarkan hasil investigasi media ini dan keterangan sejumlah sumber masyarakat Gane Barat Utara, SPBU tersebut diketahui rutin menerima pasokan BBM dalam jumlah besar setiap bulan, yakni sekitar 50 ton Pertalite dan 50 ton Pertamax. Namun anehnya, masyarakat justru terus mengalami kelangkaan BBM di SPBU.
Warga menduga kuat BBM yang masuk tidak sepenuhnya dijual kepada masyarakat umum, melainkan langsung disalurkan ke sejumlah pengusaha depot di wilayah Gane Barat Utara dan sekitarnya.
“Setiap BBM masuk, baru satu dua hari langsung habis. Tapi anehnya depot-depot tetap jual terus. Masyarakat jadi curiga BBM dari SPBU lebih banyak disalurkan ke depot,” ungkap salah satu sumber masyarakat kepada media ini, Senin (25/05/2026).
Akibat kondisi tersebut, masyarakat kecil dan para nelayan menjadi pihak yang paling dirugikan. Mereka terpaksa membeli BBM eceran di depot dengan harga yang sangat tinggi karena stok di SPBU hampir selalu kosong.
Bahkan berdasarkan penelusuran media ini, para pengusaha depot diduga menjual Pertalite dengan harga bervariasi mulai dari Rp18 ribu hingga Rp20 ribu per liter. Sementara Pertamax juga dijual di atas harga resmi.
Padahal, harga resmi Pertalite yang ditetapkan pemerintah dan PT Pertamina saat ini hanya Rp10.000 per liter untuk seluruh wilayah Indonesia. Sedangkan Pertamax berada di kisaran Rp14 ribu per liter.
“Kalau masyarakat beli di SPBU harganya normal, tapi masalahnya BBM selalu kosong. Akhirnya rakyat dipaksa beli di depot dengan harga mahal,” ujar warga lainnya.
Warga menilai kondisi tersebut sangat bertentangan dengan tujuan subsidi BBM yang sejatinya diperuntukkan bagi masyarakat kecil, nelayan, dan kelompok ekonomi lemah. Namun yang terjadi di lapangan, masyarakat justru kesulitan mendapatkan BBM subsidi sementara depot-depot pengecer tetap bebas menjual BBM dalam jumlah besar.
“BBM subsidi itu hak masyarakat dan nelayan, bukan untuk dijadikan ladang bisnis oleh oknum tertentu,” tegas salah satu sumber.
Sorotan masyarakat juga mengarah kepada Wakil Wali Kota Ternate, Nasri Abubakar, yang disebut-sebut sebagai pemilik SPBU Dolik di bawah naungan CV Lalai Daio. Nama pejabat tersebut kini ramai diperbincangkan warga menyusul dugaan distribusi BBM yang dinilai tidak tepat sasaran.
Masyarakat meminta Nasri Abubakar segera memberikan klarifikasi terbuka agar tidak menimbulkan spekulasi liar di tengah publik.
“Kalau benar itu milik pejabat, harusnya menjadi contoh yang baik dalam pelayanan kepada masyarakat. Jangan sampai rakyat kecil jadi korban,” kata warga.
Selain itu, pengelolaan SPBU yang disebut dikendalikan oleh Iksan Abubakar juga menjadi perhatian masyarakat. Warga menilai perlu ada audit dan pemeriksaan menyeluruh terhadap distribusi BBM di SPBU tersebut.
Media ini juga telah melakukan konfirmasi kepada pengelola SPBU Dolik, Iksan Abubakar, melalui pesan WhatsApp terkait dugaan distribusi BBM ke depot-depot pengecer. Namun hingga berita ini diterbitkan, pesan yang dikirim belum mendapat tanggapan.
Sementara itu, media ini juga telah menghubungi Kapolsek Gane Barat melalui WhatsApp terkait dugaan adanya keterlibatan oknum aparat dalam pengawasan distribusi BBM di wilayah tersebut. Menanggapi hal itu, Kapolsek Gane Barat menegaskan akan menindak tegas apabila ditemukan anggota yang terlibat.
“Kalau ada bukti anggota terlibat, saya minta nama anggota tersebut, saya akan proses hukum,” tegas Kapolsek Gane Barat saat dikonfirmasi media ini.
Meski demikian, masyarakat tetap meminta aparat kepolisian dan Pertamina segera turun melakukan pengawasan serius karena persoalan kelangkaan BBM di wilayah Gane Barat Utara disebut sudah berlangsung lama dan terus merugikan masyarakat kecil serta para nelayan.
Bahkan, muncul dugaan di tengah masyarakat adanya permainan dan kerja sama antara oknum tertentu dengan pihak-pihak yang terlibat dalam distribusi BBM ke depot-depot pengecer. Dugaan tersebut kini menjadi pembicaraan serius warga Gane Barat Utara.
Masyarakat berharap dugaan penyimpangan distribusi BBM tersebut dapat dibongkar secara transparan agar hak masyarakat kecil dan para nelayan tidak terus dirampas oleh praktik-praktik yang diduga merugikan rakyat.
Redaksi: Draken/”
















