Layanan pasang iklan media : 082173436941
DaerahHalmahera TengahMaluku Utara

DARI LIMBAH JADI BERKAH, TEKAD LATIH 20 IBU-IBU MALIFORO OLAH PALA JADI EMPAT PRODUK BERNILAI EKONOMI

191
×

DARI LIMBAH JADI BERKAH, TEKAD LATIH 20 IBU-IBU MALIFORO OLAH PALA JADI EMPAT PRODUK BERNILAI EKONOMI

Sebarkan artikel ini
Oplus_16908288

FAKTAHALMAHERA.COM — Limbah pala yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal mulai dilirik sebagai peluang ekonomi oleh masyarakat Desa Maliforo, Kecamatan Patani Utara, Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara.

Melalui Program Transformasi Ekonomi Kampung Terpadu (TEKAD), sebanyak 20 ibu-ibu Desa Maliforo mengikuti pelatihan teknis pengolahan limbah pala menjadi empat produk pangan bernilai ekonomi.

Promosi usaha atau Personal branding Anda??
Hubungi kami sekarang untuk informasi lebih lanjut.

Pelatihan yang berlangsung selama tiga hari, 23–25 September 2026, tersebut bertujuan meningkatkan keterampilan masyarakat dalam mengolah potensi lokal menjadi produk yang memiliki nilai tambah dan berpeluang dikembangkan sebagai usaha produktif.

Empat produk yang dihasilkan dalam pelatihan itu meliputi sirup pala, selai pala, minuman pala, dan manisan pala.

Para peserta tidak hanya mendapatkan materi teori, tetapi juga terlibat langsung dalam praktik pengolahan, mulai dari persiapan bahan baku, proses produksi, penakaran, hingga pengemasan produk.

Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber dari kalangan akademisi Universitas Khairun Ternate, yakni Dr. Ir. Yusnaini, S.Pt., M.P., dan Indah Rosdiwati, S.P., M.Sc.

Keduanya memberikan pendampingan teknis secara bertahap, mulai dari pengenalan karakteristik bahan baku, teknik pengolahan, ketepatan takaran, hingga pengemasan produk agar hasil olahan memiliki kualitas yang baik.

Kepala Desa Maliforo, Esa Hi. Nasir, membuka sekaligus menutup rangkaian kegiatan pelatihan tersebut.

Ia mengapresiasi pelaksanaan program TEKAD yang dinilai memberikan pengetahuan dan keterampilan baru kepada masyarakat, khususnya kelompok perempuan di Desa Maliforo.

“Kami sangat mengapresiasi kegiatan ini karena masyarakat, khususnya ibu-ibu, mendapatkan pengetahuan dan keterampilan baru dalam mengolah potensi pala yang ada di desa. Harapan kami, keterampilan ini tidak berhenti setelah pelatihan, tetapi dapat dikembangkan menjadi kegiatan usaha masyarakat,” ujar Esa Hi. Nasir kepada media ini, Sabtu (26/09/2026).

Menurutnya, pemanfaatan limbah pala menjadi produk olahan merupakan salah satu bentuk kreativitas masyarakat dalam meningkatkan nilai tambah komoditas lokal.

Ia berharap produk yang telah dipraktikkan selama pelatihan dapat terus dikembangkan, baik dari segi kualitas, kemasan, maupun pemasaran, sehingga mampu memberikan manfaat ekonomi bagi keluarga dan masyarakat desa.

Narasumber pelatihan, Dr. Ir. Yusnaini, S.Pt., M.P., menjelaskan bahwa kegiatan tersebut dirancang agar peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu melakukan proses pengolahan secara langsung.

“Yang penting dalam kegiatan ini adalah bagaimana masyarakat memahami proses pengolahan dari bahan baku sampai menjadi produk yang siap dikonsumsi dan dikemas. Dengan keterampilan tersebut, bahan yang sebelumnya belum dimanfaatkan dapat memiliki nilai tambah,” jelas Yusnaini.

Sementara itu, Indah Rosdiwati, S.P., M.Sc., menekankan pentingnya ketepatan proses pengolahan dan penakaran untuk menghasilkan produk dengan kualitas yang konsisten.

“Peserta kita dampingi mulai dari proses persiapan bahan, pengolahan, penakaran sampai pada pengemasan. Harapannya, setelah pelatihan mereka dapat mempraktikkannya kembali secara mandiri dan terus mengembangkan produk sesuai potensi yang dimiliki,” katanya.

Selama tiga hari pelatihan, sebanyak 20 peserta terlibat langsung dalam seluruh tahapan kegiatan.

Setelah mendapatkan materi pengantar, para peserta mengikuti praktik pengolahan bahan baku pala hingga menghasilkan produk jadi.

Antusiasme peserta terlihat saat mereka mulai mengolah bahan pala menjadi berbagai produk pangan. Selain mempelajari teknik pembuatan, mereka juga mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya ketepatan takaran dan pengemasan agar produk memiliki kualitas serta tampilan yang lebih menarik.

Kegiatan ini sekaligus menjadi ruang pembelajaran bagi masyarakat bahwa pemanfaatan komoditas lokal tidak harus berhenti pada penjualan bahan mentah.

Dengan pengetahuan dan keterampilan yang tepat, pala dapat dikembangkan menjadi berbagai produk turunan yang memiliki nilai tambah dan berpotensi membuka peluang usaha baru.

Pelaksanaan kegiatan turut didampingi Fasilitator Kabupaten TEKAD Halmahera Tengah, Adam Basirun, bersama Fasilitator Kecamatan Patani Utara, Marlinda Kader dan Siti Farida Lastori, serta Kader Desa Maliforo dan Tim EO.

Pendampingan dilakukan sejak tahap persiapan, pelaksanaan, hingga berakhirnya kegiatan. Para fasilitator dan kader turut memastikan peserta dapat mengikuti setiap tahapan pelatihan dengan baik serta memahami praktik yang diberikan oleh narasumber.

Adam Basirun mengatakan, pelatihan tersebut merupakan bagian dari upaya mendorong masyarakat desa agar mampu mengembangkan potensi lokal menjadi kegiatan ekonomi produktif.

“Pelatihan ini diharapkan menjadi langkah awal bagi masyarakat Maliforo untuk mengembangkan produk turunan pala. Yang paling penting adalah adanya keberlanjutan setelah kegiatan, sehingga keterampilan yang diperoleh benar-benar dapat diterapkan dan memberikan nilai tambah bagi masyarakat,” ujarnya.

Program Transformasi Ekonomi Kampung Terpadu (TEKAD), di bawah Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal bersama DPMD Kabupaten Halmahera Tengah, terus mendorong penguatan kapasitas masyarakat melalui pengembangan potensi ekonomi lokal.

Pelatihan pengolahan limbah pala di Desa Maliforo menjadi salah satu bentuk kegiatan untuk memperkuat keterampilan masyarakat sekaligus membuka ruang pengembangan usaha berbasis sumber daya lokal.

Ke depan, produk berupa sirup pala, selai pala, minuman pala, dan manisan pala diharapkan dapat terus disempurnakan, baik dari segi cita rasa, kualitas, kemasan, identitas produk, maupun pemasaran.

Dengan demikian, limbah pala tidak lagi sekadar dipandang sebagai sisa produksi, tetapi dapat menjadi bahan baku yang membuka peluang baru bagi ekonomi keluarga dan masyarakat desa.

Dari Maliforo, pala tidak hanya dipanen sebagai komoditas, tetapi mulai diolah menjadi peluang: dari limbah menjadi produk, dari keterampilan menjadi usaha, dan dari potensi lokal menjadi nilai ekonomi.

 

Redaksi: Adan/”