Layanan pasang iklan media : 082173436941
Terkini

Sungai Doko di Desa Gambaru Diduga Tercemar, Petani Obi Selatan Kehilangan Sumber Air Utama

514
×

Sungai Doko di Desa Gambaru Diduga Tercemar, Petani Obi Selatan Kehilangan Sumber Air Utama

Sebarkan artikel ini

 

Promosi usaha atau Personal branding Anda??
Hubungi kami sekarang untuk informasi lebih lanjut.

FAKTAHALMAHERA.COM– Sungai Doko, yang mengalir di Desa Gambaru, Kecamatan Obi Selatan, Kabupaten Halmahera Selatan, selama puluhan tahun menjadi tumpuan utama masyarakat—khususnya para petani—untuk memenuhi kebutuhan air irigasi, pengolahan lahan, hingga pemakaian sehari-hari. Namun dalam beberapa bulan terakhir, kondisi sungai itu mulai menjadi perhatian serius warga.

Sejumlah masyarakat mengaku kualitas air Sungai Doko mengalami perubahan signifikan. Warna air dideskripsikan lebih keruh dari biasanya, sementara endapan lumpur semakin tebal. Perubahan ini membuat warga resah dan enggan lagi memanfaatkan air sungai sebagaimana sebelumnya.

Menurut warga, perubahan tersebut diduga berkaitan dengan aktivitas pertambangan nikel yang beroperasi di wilayah sekitar oleh PT Gane Tambang Sentosa (GTS). Meski dugaan itu berkembang kuat di tengah masyarakat, warga menegaskan bahwa mereka membutuhkan investigasi resmi dari pemerintah untuk memastikan penyebab kerusakan tersebut.

Bagi para petani di Gambaru, Sungai Doko adalah satu-satunya sumber air yang praktis dan terjangkau. Saat sungai tak dapat lagi digunakan, dampaknya dirasakan langsung: proses olah lahan menjadi terhambat, beberapa tanaman kekurangan suplai air, hingga sebagian petani memilih berhenti sementara dari aktivitas bertani.

“Biasanya air ini jernih dan mengalir lancar. Sekarang kami takut memakainya,” ujar seorang petani, menggambarkan kegelisahan masyarakat setempat.

Kondisi ini tidak hanya mengganggu aktivitas pertanian, tetapi juga mempengaruhi kehidupan sosial ekonomi warga yang sangat bergantung pada hasil tani.

Persoalan yang menghimpit warga Desa Gambaru ini mendapat perhatian dari Barisan Rakyat Halmahera Selatan (BARAH). Ketua BARAH, Ady H. Adam, menilai situasi di Desa Gambaru tidak bisa dibiarkan berlarut-larut.

 “Kami menerima banyak laporan dari warga yang merasa hidupnya semakin sulit setelah Sungai Doko tidak lagi bisa digunakan. Pemerintah daerah harus segera turun melakukan investigasi menyeluruh, menilai kualitas air, dan melihat secara langsung dampak yang dirasakan warga,” ujar Ady kepada media ini, Minggu (30/11/2025).

Ia menegaskan bahwa menjaga kelestarian lingkungan harus menjadi prioritas utama dalam kawasan yang juga menjadi wilayah industri.

 “Aktivitas industri apa pun tidak boleh mengorbankan lingkungan dan sumber penghidupan masyarakat. Jika ada dugaan pencemaran, harus ada langkah cepat, transparan, dan terukur dari pihak berwenang,” lanjutnya.

BARAH juga mendorong proses dialog antara masyarakat, pemerintah, dan pihak perusahaan demi memastikan setiap persoalan dapat ditangani secara terbuka.

Hingga kini, warga Desa Gambaru berharap pemerintah kabupaten maupun provinsi segera melakukan pengecekan kualitas air Sungai Doko, termasuk memastikan apakah aktivitas industri di wilayah tersebut memiliki tata kelola lingkungan yang sesuai dengan ketentuan.

Masyarakat juga meminta agar setiap aktivitas pertambangan di sekitar kawasan Obi Selatan diawasi secara lebih ketat, agar tidak menimbulkan dampak jangka panjang bagi lingkungan dan kehidupan warga.

 “Kami hanya ingin sungai kembali seperti dulu. Kami tidak menolak pembangunan, tapi jangan sampai kehidupan kami yang jadi korban,” kata seorang tokoh desa Gambaru.

Dengan kondisi pertanian yang mulai terhambat, warga berharap respons cepat dari pemerintah dapat memberikan kepastian, sekaligus memulihkan fungsi Sungai Doko sebagai sumber kehidupan masyarakat Desa Gambaru.

 

Redaksi: Draken/”